Google info dan internet online
Showing posts with label Al-Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Al-Ilmu. Show all posts

Wednesday, August 15, 2012

AL-QUR’AN MUHKAM DAN MUTASYABIH postheadericon

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2



Dilihat dari sisi pandang, muhkam dan mutasyabih, Al-Qur’an terbagi dalam tiga bentuk.

Pertama : MUHKAM
Umumnnya merupakan ciri Al-Qur’an secara keseluruhan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu” [Huud : 1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah” [Yunus : 1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah” [Az-Zukhruf : 4]

Artinya adalah indah dalam bentuk dan susunan kata serta maknanya. Al-Qur’an berada di puncak nilai kefasihan dan sastra ; berita-beritanya secara keseluruhan adalah benar dan bermanfaat, tidak ada dusta, kontradiksi dan main-main yang tidak ada manfaatnya, hukum-hukumnya secara keseluruhan adalah adil, tidak ada kedzaliman, kontradiksi atau kesalahan.

Kedua : MUTASYABIH
Umumnya juga merupakan ciri Al-Qur’an secara keseluruhan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’ an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya” [Az-Zumar : 23]

Artinya sebagian isi Al-Qur’an memiliki keserupaan dengan sebagian yang lain dalam hal keindahan, kesempurnaan dan tujuan-tujuan yang mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya” [An-Nisa : 82]

Ketiga : MUHKAM yang khusus pada sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan MUTASYABIH juga khusus pada sebagian yang lain, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami” [Ali-Imran : 7]

Arti muhkam disini adalah, bahwa makna ayat jelas dan terang ; tidak tersamar sama sekali, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal” [Al-Hujuraat : 13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [Al-Baqarah : 21]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” [Al-Baqarah : 275]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik” [Al-Maidah : 3]

Sedangkan arti Mutasyabih di sini adalah makna ayat yang tersamar sehingga orang menjadi ragu dalam memahami sesuatu yang tidak sesuai bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, KitabNya atau RasulNya, sedangkan orang yang mendalam ilmunya tidak demikian.

Contoh yang berkaitan dengan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang yang ragu memahami ayat.

“Artinya : (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka” [Al-Maidah : 64]

Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua tangan yang serupa dengan kedua tangan makhluk.

Contoh yang berkaitan dengan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang yang ragu memahami bahwa Al-Qur’an bersifat kontradiktif dimana sebagiannya mendustakan sebagian yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” [An-Nisa : 79]

Pada tempat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman.

“Artinya : Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan : “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencan mereka mengatakan : “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah : Semuanya (datang) dari sisi Allah” [An-Nisaa : 78]

Contoh yang berkaitan dengan Rasulullah, Seorang yang ragu memahami firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu” [Yunus : 94]

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu terhadap apa yang diturunkan kepada beliau.

SIKAP ORANG-ORANG YANG DALAM ILMUNYA, DAN SIKAP ORANG-ORANG YANG CONDONG KEPADA KESESATAN PADA AYAT-AYAT MUTASYABIH

Sikap orang-orang yang dalam ilmunya dan sikap orang-orang yang condong kepada kesesatan pada ayat-ayat Mutasyabih dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” [Ali-Imran : 7]

Orang-orang yang condong kepada kesesatan menjadikan ayat-ayat mutasyabih sebagai sarana untuk menghujat Al-Qur’an, menebarkan fitnah dikalangan manusia dan mentakwilkannya dengan yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga menjadi sesat dan menyesatkan.

Sedangkan orang-orang yang dalam ilmunya meyakini, bahwa apa saja yang terdapat pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah benar, tidak ada kontradiksi dan perbedaan karena datangnya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya” [An-Nisaa : 82]

Ayat-ayat yang Mutasyabih dikembalikan menjadi Muhkam sehingga keseluruhan Al-Qur’an menjadi Muhkam.

Pada contoh pertama mereka katakan : Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua tangan hakiki yang sesuai dengan kemuliaan dan keagunganNya, tidak menyerupai tangan makhluk, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Dzat yang tidak menyerupai dzat para makhluk, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Asy-Syuura : 11]

Pada contoh kedua mereka katakan : Bahwasanya nikmat dan bencana semuanya terjadi sesuai dengan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi kenikmatan sebabnya adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hambaNya, sedangkan bencana penyebabnya adalah perbuatan hamba sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)’ [Asy-Syuura : 30]

Penyandaran bencana kepada hamba adalah penyandaran sesuatu kepada penyebabnya, bukan penyandaran kepada penentunya. Sedangkan penyandaran nikmat dan bencana kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah penyandaran sesuatu kepada penentunya. Dengan demikian hilanglah keraguan akan adanya perbedaan antara kedua ayat.

Pada contoh yang ketiga mereka katakan : Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ragu terhadap apa yang diturunkan kepada beliau, bahkan beliau adalah orang yang paling tahu tentang wahyu dibandingkan manusia lainnya dan paling kuat keyakinannya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat yang sama.

“Artinya : Katakanlah : ‘Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah” [Yunus : 104]

Artinya : Jika kalian merasa ragu terhadap wahyu itu, maka ketahuilah bahwa aku sangat yakin, oleh karena itu aku tidak beribadah kepada apa yang kalian ibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan aku kafir kepadanya dan aku beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak mesti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu” [Yunus : 94]

Berarti Rasulullah ragu-ragu atau terjerumus dalam keragu-raguan. Lihat firman Allah Subahanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)” [Az-Zukhruf : 81]

Apakah dengan demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala boleh atau sudah punya anak ? Sama sekali tidak !, hal ini tidak pernah terjadi dan tidak boleh bagi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba” [Maryam : 92]

Dan tidak mesti dipahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” [Al-Baqarah : 147]

Bahwa keragu-raguan akan kebenaran terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena larangan dari sesuatu terkadang juga ditujukan kepada orang yang belum pernah melakukannya. Lihat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalang-halangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” [Al-Qashash : 87]

Jelas sekali, bahwa mereka tidak akan mungkin menghalangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuan dari pengarahan larangan kepada orang yang tidak melakukannya adalah : Sebagai tandingan bagi orang yang melakukannya dan peringatan dari manhaj mereka. Dengan ini hilanglah kesalah pahaman dan persangkaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan yang tidak layak baginya.

[Disalin dari kitab Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy]

SURAT-SURAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH postheadericon

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, sebagian besar waktu Rasulullah dihabiskan di Makkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” [Al-Israa : 106]

Oleh karena itu para ulama rahimahullahu membagi Al-Qur’an menjadi dua bagian : Makkiyah dan Madaniyah.

Makkiyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berhijrah ke Madinah.

Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah berhijrah ke Madinah.

Dengan dasar ini, maka firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Ma’idah : 3]

Termasuk ayat Madaniyah walaupun diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haji Wada’ di Arafah.

Dalam kitab Shahih Bukhari [1] diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan : “Kami tahu hari itu dan tempat wahyu tersebut turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wahyu tersebut turun sementara Rasulullah sedang berdiri berkhutbah hari Jum’at di padang Arafah”.

PERBEDAAN ANTARA AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN AYAT-AYAT MADANIYAH DILIHAT DARI KONTEKS KALIMAT DAN KANDUNGAN

[a]. Perbedaan Pada Konteks Kalimat.
1. Kebanyakan ayat-ayat Makiyyah memakai konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yang didakwahi menolak dan berpaling, maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yang tegas. Baca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar.

Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Baca surat Al-Maa’idah.

2. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Baca surat Ath-Thuur.

Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum-hukum dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dengan kondisi obyek yang didakwahi. Baca ayat tentang hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.

[b]. Perbedaan Pada Materi Pembahasan
1. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan ; karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu.

Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan perincian ibadah dan muamalah.

2. Penjelasan secara rinci tentang jihad berserta hukum-hukumnya dan kaum munafik beserta segala permasalahannya karena memang kondisinya menuntut demikian. Hal itu ketika disyariatkannya jihad dan timbulnya kemunafikan, berbeda halnya dengan ayatayat Makkiyah.

MANFAAT MENGETAHUI PEMBAGIAN MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah adalah bagian dari ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat penting. Hal itu karena pada pengetahuan tersebut memiliki beberapa manfaat, di antaranya.

1. Nampak jelas sastra Al-Qur’an pada puncak keindahannya, yaitu ketika setiap kaum diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.

2. Nampak jelas puncak tertinggi dari hikmah pensyariatan diturunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan prioritas terpenting kondisi obyek yang di dakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan taat.

3. Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing

4. Membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat Makkiyah dan Madaniyah, maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun setelah ayat Makkiyah.

[Disalin dari kitab Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy]
__________
Foote Note
[1]. Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab ; Ziyaadatul Iman Wa Nuqshaanuhu (Bertambah dan berkurangnya keimanan), hadits nomor 45, Muslim, Kitab At-Tafsir, Bab Fii Tafsiri Aayaatin Mutafarriqah, hadits nomor 3015